SERANG,BANTEN,Majapahittv.com -| Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan kembali posisi warisan intelektual dan spiritual Nusantara di panggung dunia. Digelar oleh Kementerian Kebudayaan pada 28 April 2026 di halaman Masjid Agung Banten Lama, perayaan ini berlangsung khidmat sekaligus semarak.
Acara dibuka dengan penampilan Tari Rampak Bedug dan Tari Ratoh Jaroe yang memadukan kekuatan ritme dan harmoni gerak, mencerminkan kekayaan tradisi Islam Nusantara yang dinamis. Lebih dari sekadar seremoni, peringatan ini memiliki arti strategis karena telah masuk dalam agenda UNESCO, menandakan pengakuan global terhadap sosok Syekh Yusuf.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa Syekh Yusuf bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang lintas benua. Dengan lebih dari 50 karya tasawuf, ia menggabungkan kekuatan pemikiran dan aksi nyata melawan penjajahan. Bahkan, ia menjadi satu-satunya tokoh yang menyandang gelar pahlawan nasional di dua negara, yakni Indonesia dan Afrika Selatan.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga mengumumkan langkah strategis berupa rencana pendirian Museum Syekh Yusuf di Cape Town. Museum ini akan difungsikan sebagai Rumah Budaya Indonesia, sekaligus simbol diplomasi kebudayaan yang memperkuat jejak sejarah Syekh Yusuf di Afrika.
“Langkah ini telah dikoordinasikan dengan berbagai pihak dan mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Fadli. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen mempercepat penetapan kawasan Banten Lama sebagai Cagar Budaya Nasional guna menjaga kelestarian warisan hidup yang ada.
Rangkaian kegiatan dalam peringatan ini turut menghadirkan diskusi intelektual bertajuk “Syekh Yusuf: Dulu, Kini, dan Nanti” yang melibatkan para pakar seperti Oman Fathurahman dan Mukhlis PaEni. Selain itu, digelar pula aksi Khatmil Quran bil Kitabah oleh 500 santri serta pameran manuskrip yang masuk dalam program Memory of the World UNESCO.
Suasana semakin syahdu saat grup musik religi Debu tampil membawakan lagu-lagu spiritual, diikuti pembacaan puisi kebangsaan oleh Ferry Sandi.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 1.000 peserta ini juga melibatkan berbagai unsur diplomatik, termasuk perwakilan dari Yaman, Iran, dan Malaysia. Kehadiran mereka menegaskan bahwa warisan Syekh Yusuf tidak hanya menjadi milik Indonesia, tetapi juga bagian dari sejarah dunia.
Lebih dari sekadar peringatan, momentum ini menjadi refleksi bahwa nilai-nilai perjuangan, toleransi, dan spiritualitas yang diwariskan Syekh Yusuf tetap relevan di tengah tantangan global saat ini. Melalui narasi tokoh yang menjangkau hingga Afrika, Indonesia meneguhkan perannya dalam diplomasi budaya internasional menjadikan sejarah sebagai jembatan menuju masa depan.[DaBon]






