JAKARTA,Majapahittv.com -| Jumat Malam(17/4) karpet merah di kawasan Epicentrum XXI, Jakarta, terasa berbeda. Sorot lampu, deretan kamera, dan antusiasme insan perfilman menyatu dalam satu peristiwa penting: gala premiere film Para Perasuk. Kehadiran Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menjadi penegas bahwa dunia film bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ekspresi budaya yang terus diperjuangkan.
Film karya Wregas Bhanuteja ini tampil berani. Mengangkat fenomena kesurupan yang lekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, Para Perasuk tidak sekadar menyuguhkan cerita mistis, tetapi juga merangkai dialog antara tradisi dan modernitas dua dunia yang kerap bersinggungan, bahkan bertabrakan.
Di dalam ruang gelap bioskop, penonton diajak menyelami atmosfer yang intens. Visual yang kuat, musik yang menggugah, serta narasi yang tidak biasa menjadi kekuatan utama film ini. Bagi Fadli Zon, keberanian eksplorasi tema inilah yang membuat Para Perasuk terasa “out of the box” dan membuka kemungkinan baru bagi perfilman Indonesia untuk melangkah lebih jauh.
Lebih dari sekadar kisah, film ini juga menghadirkan refleksi. Tentang bagaimana manusia memaknai tradisi, tentang spiritualitas yang masih hidup di tengah arus modernisasi, dan tentang identitas budaya yang terus dinegosiasikan dari generasi ke generasi.
Daya tarik film ini semakin kuat lewat jajaran pemainnya. Nama-nama seperti Angga Yunanda, Indra Birowo, dan Maudy Ayunda tampil menghidupkan cerita. Sementara kehadiran Anggun C. Sasmi menjadi warna tersendiri sebuah debut layar lebar yang menambah dimensi baru dalam dinamika film ini.
Gala premiere tersebut juga dihadiri berbagai tokoh perfilman dan pejabat, termasuk Ahmad Mahendra, yang mendampingi Menteri Kebudayaan. Momentum ini bukan sekadar perayaan sebuah film, melainkan simbol kolaborasi antara negara dan pelaku seni dalam mendorong kemajuan budaya.
Pada akhirnya, Para Perasuk hadir sebagai lebih dari tontonan. Ia menjadi pengingat bahwa film bisa menjadi medium penting untuk merawat ingatan kolektif, sekaligus memperkenalkan wajah budaya Indonesia ke panggung dunia. Di tengah derasnya arus globalisasi, karya seperti ini menjadi bukti bahwa akar tradisi tetap bisa tumbuh bahkan bersinar di layar lebar.[DaBon]






